Foto bukti kebesaran tuhan

Foto perkawinan orang tua sepupu saya Foto perkawinan orang tua sepupu saya

Sebuah notifikasi Facebook menyapa layar telepon genggam saya, ternyata sebuah undangan untuk meng-like tulisan yang ikut lomba penulisan artikel Konichiwa Jepang yang diadakan oleh Konsulat Jenderal Jepang di Denpasar oleh seorang teman. Karena penasaran, saya membuka tautan pada cerita kawan tadi dan membawa saya pada halaman website Konsulat Jenderal Jepang di Denpasar yang mengabarkan tentang lomba ini.

Jero Laksamana waktu masih anak-anak Jero Laksamana waktu masih anak-anak

Setelah membaca sepintas informasi di halaman itu, nafas saya memburu. Tangan saya gemetar meraih tas laptop, bergegas membuka lalu menghidupkannya. Masih pukul 3.30 pagi, tapi semangat saya untuk segera menulis membara. Pikiran saya melayang jauh membayangkan segera terbang ke Jepang menemui adik sepupu saya yang sudah tinggal di Jepang selama beberapa tahun meninggalkan Bali bersama ibunya yang asli Jepang. Saya berpikir, inilah kebesaran Tuhan yang menunjukkan jalan kepada kami untuk bertemu setelah sekian lama terpisah.

Jero Laksamana adalah anak semata wayang perkawinan dari paman saya Jero Wijaya dengan seorang wanita Jepang. Setelah resmi menikah pada tahun 1994 mereka tinggal dan membuka usaha di Bali. Setahun kemudian, Jero Laksamana lahir dan besar di Bali. Setelah menamatkan pendidikan SMP di Bali, dia bersama ibunya memilih tinggal di Jepang mengurus kakek dan neneknya yang sudah tua. (karena alas an privasi, saya tidak ceritakan cerita sedih di balik keputusan mereka tinggal di Jepang)

Saya dan Jero Laksamana di tengah-tengah saudara dan sepupu yang lain Saya dan Jero Laksamana
di tengah-tengah saudara dan sepupu yang lain

Adalah kisah yang memilukan, karena semenjak mereka tinggal di Jepang sejak lebih dari 5 tahun yang lalu mereka tidak pernah lagi pulang ke Bali. Tinggallah kami yang di Bali menahan rindu yang tidak bisa menemui mereka karena keterbatasan biaya untuk berkunjung ke Jepang.

Foto terakhir saya bersama Jero Laksamana pada saat ulang tahunnya Foto terakhir saya bersama Jero Laksamana
pada saat ulang tahunnya

Jero Laksamana adalah anak yang cerdas dan periang yang selalu membuat keluarga besar kami di Bali selalu merindukannya. Sosok ibunya yang penyabar dan pekerja keras seringkali membuat keluarga kami mengingatnya dan tidak jarang ibu saya menitikkan air matanya saking rindunya.

Saat ini saya hanya berkomunikasi melalui media sosial dengan mereka. Setiap saya melakukan percakapan jarak jauh, kesedihan saya merambat melalui air mata. Keinginan yang begitu besar untuk bertemu mereka selalu kandas karena mahalnya tiket penerbangan ke Tokyo.

Lomba ini adalah jalan Tuhan dan jembatan terbesar bagi saya untuk bisa menemui adik sepupu saya di Tokyo. Tentu bukan itu saja, saya memang tertarik dengan Jepang semenjak saya mengenal tante saya ini. Dari sosok beliau saya bisa membayangkan bagaimana orang Jepang menjaga kesopanan, kerja keras, disiplin dan kegigihan menjaga tradisi mereka dan menggiring mimpi saya bisa berkunjung ke Jepang.

Jepang bagi saya adalah cermin sebuah negara maju dengan yang tetap menjaga tradisi dengan kuat di tengah pergerakan teknologi informasi yang semakin kencang. Dari Jepang saya banyak belajar tentang kerja keras, disiplin, manajemen dan penghargaan terhadap tradisi.

Lewat lomba ini saya berharap bisa berkunjung ke Jepang, menemui adik sepupup saya dan ibunya. Melepaskan rindu yang menggelayut sejak 5 tahun sembari belajar tentang budaya dan bagaimana mereka, masyarakat Jepang menjadi negara adi daya.

 

Oleh:
I Kadek Didi Suprapta

→ Kembali